Musim panen 2026 membawa kabar baik ke lereng Sindoro-Sumbing. Tembakau grade E dari Lamuk, Kabupaten Temanggung, laku hingga Rp350 ribu per kilogram.

Musim lalu, grade E varietas Kemloko hanya dihargai sekitar Rp85 ribu. Kini grade C dan D pun bergerak di kisaran Rp65 ribu sampai Rp80 ribu per kilogram.
"Angin segar bagi petani tembakau pada musim kali ini," kata Agus, seperti dikutip Koran Jakarta, 31 Agustus 2026.
Senyum serupa muncul di Kendal. Ahmad Mustaqim, petani dari Desa Ringinarum, kini menjual tembakaunya Rp65 ribu hingga Rp69 ribu per kilogram. Musim lalu, harganya cuma Rp40 ribu sampai Rp50 ribu.
"Alhamdulillah, tahun ini harganya lebih bagus," kata Ahmad.
Harga bagus itu tidak datang tiba-tiba. Jawa Tengah punya bentang alam yang beragam, dari lereng gunung sampai dataran rendah, dan tiap ketinggian melahirkan karakter tembakau sendiri.
Dalam video dokumenter Espos Indonesia, seorang narasumber menjelaskan keunggulan Temanggung bukan cuma soal ketinggian. Kemiringan lahan, ada yang menghadap timur, ada yang ke selatan, ikut menentukan mutu daun.
Dari situ lahir tiga cara olah utama: rajangan, asapan, dan garangan. Masing-masing punya pasarnya sendiri.
Rajangan paling dominan. Menurut video yang tayang Oktober 2023 itu, lebih dari 90 persen tembakau Jawa Tengah diolah dengan dirajang, lalu sebagian besar dikirim ke pabrik rokok.
Puncak kelas rajangan adalah srintil, tembakau langka yang banyak lahir di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo. Saking langkanya, banyak warga percaya srintil hadir sebagai anugerah.
"Ibarat tembakau itu makanan, nasinya, lauknya tetap dari Temanggung. Inti dari cita rasanya itu ada di srintil," ujar narasumber tersebut.
Anak muda Temanggung ikut berinovasi lewat lembutan, yaitu rajangan daun pilihan yang diiris lebih halus. Pasarnya bukan pabrik, melainkan konsumen umum, termasuk penggemar rokok linting sendiri.
Di luar rajangan, ada tembakau asapan dari kawasan Vorstenlanden, sebutan era kolonial untuk wilayah Surakarta dan Yogyakarta, termasuk Klaten. Daunnya diasapi dan dijual dalam bentuk lembaran.
Tembakau ini menjadi bahan baku cerutu untuk pasar Uni Eropa. Pada 2015, PTPN X tercatat mengekspor sekitar 1.500 ton tembakau cerutu per tahun dari tiga kebunnya, salah satunya Kebonarum di Klaten.
Yang paling unik ada di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Di sana, tembakau diolah dengan cara digarang, yakni dibakar di atas bara api.
"Bukan sistem oven, bukan sistem asap. Itu yang namanya tembakau garangan," jelas seorang warga Tieng dalam video tersebut.
Bagi warga desa di atas awan itu, garangan bukan sekadar tradisi. "Tembakau Tieng ini masih menjadi andalan, masih menjadi tumpuan ekonomi di masyarakat," katanya.
Karena itu, petani didorong mencari pasar lain di luar pabrik. Seorang narasumber dalam video Espos menyebut langkah ini sebagai jalan menuju kebebasan.
"Jadi tidak hanya menggantungkan pasar tertentu, dalam hal ini hanya pabrikan semata. Jadi nanti ada kemerdekaan untuk menjual tembakau," ujarnya.